Sabtu, 13 Maret 2010

BERDUIT TETAP DILARANG SAKIT

Jika banyak slogan yang mengatakan orang miskin dilarang sakit aku rasa masih kurang tepat. Karena walaupun sudah punya duit tetap saja merasakan sakit. Halah….korban birokrasi tidak harus dari kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah.
 Jujur….aku bukan kategori orang berada tapi untuk sebuah kesehatan mungkin dana akan lebih di utamakan dari pada sebuah laptop atau kamera digital hehehehehehe……ngasih perumpamaan kok pake laptop sama kamera!!! Keinginan terpendam sih!!!


Peristiwa ini benar-benar aku alami sendiri. Arrrgghhhhhhhhhh…….ingin marah! Peristiwa berawal dari seorang dokter kandungan memvonis fetus dalam kandunganku tidak tumbuh dengan normal. Jika dipaksakan akan berdampak buruk pada diriku dan juga mengakibatkan cacat permanent pada bayi. Jujur saja ini adalah kehamilan pertama. Panik tentu saja. Apaai sang dokter sama sekali tidak memberika opsi ataupun penjelasan lain. Mau tanya lebih detail sudah tidak sanggup. Bisa dimaklumi lah…..seorang ibu muda kehamilan pertama dan langsung divonis untuk di aborsi. Pasrah…..hingga sang dokter mengatakan, “siapkan uang sekian juta untuk operasi besok jam 6 sore”. Aku sempat heran…..bukankah yang lebih baik dipersiapkan adalah mentalku untuk masuk ruang operasi. Pasrah……

Alhasil setelah merenungi selama semalam aku memutuskan siap untuk di operasi tentu saja dengan biaya sekian juta yang diambilkan dari tabungan. Dan aku juga sudah puasa sejak shubuh karena operasi dijadwalkan jam 6 sore. Jam 5 sore aku sudah mempersiapkan mental untuk datang ke rumah sakit. Karena secara fisik aku sehat, aku langsung mengurusi sendiri persoalan administrasi. Dan Oh my Ghost!!!! Aku diminta bayar lunas untuk operasi yang belum aku lakukan. “Nanti biaya tambahan seperti infus akan di kenakan setelah operasi. Ibu silahkan bayar uang administrasi pokok saja”. Gila….tapi karena menurutku keadaan darurat aku pun mengikuti aturan rumah sakit.

Satu jam dua jam menunggu. Aku kemudian dipersilahkan masuk ke ruang operasi tentu saja dengan perasaan yang nggak karuan. Satu jam dua jam aku masih harus menunggu lagi. Jujur aku merasa takut apalagi disebelahku ada seorang ibu yang hamil yang juga keguguran di bulan ke enam. Dia sering mengerang kesakitan. Karena tidak tahan aku pun turun dari ranjang operasi dan menghampiri dia. Keluarganya mengatakan, ibu muda itu belum bisa ditangani karena suaminya masih mencari uang untuk membayar uang muka untukb penanganan dan operasi. 

Ada yang salah……..!!!Tanpa berpkir panjang aku langsung mengenakan pakaian lengkap dan menemui ruang aministrasi. 

“Sust……saya sudah empat jam nunggu. Jadi nggak operasinya”
“Maaf bu…dokternya masih dalam perjalanan”
“Bukannya dokter sendiri yang memberikan jadwal jam 6”
“iya bu….tapi tolong dimengerti. Jadwal dokter kan paadat”

Tensiku langsung naik…….!!! Aku nggak peduli dengan urusan sang dokter. Masih dengan nada yang agak pelan

“Kenapa mbak disebelah saya belum ditangani. Dia kan juga keguguran? Kasian sust…dari tadi kayak nahan sakit. Saya aja nggak sanggup dengerinnya”

Suster tersebut sedikit terdiam. Mungkin dia agak sedikit tepar dengan nada suaraku yang meningkat
“ Suaminya masih belum bayar uang muka”
“ Sebentar mbak…….belum bayar uang muka? Saya sudah bayar uang muka saja belum ditangani. Apalagi dia…..!!! kasian mbak!!! Punya perasaan dong. Untung fisik saya sehat. Kalo saya seperti dia gimana? Sudah bayar muka tapi belum juga ditangani”
“ Itu aturan rumah sakit kamu”, kilahnya

Tanpa pikir panjang aku langsung meminta uangku untuk dikembalikan. Sekian juta sangat banyak bagiku. Sempat kepikiran untuk memberikan uang itu pada sang ibu teman satu kamar denganku agar ia bisa segera di tangani. Aku nggak tega denger rintihannya.Tapi hiks…..aku juga butuh uang itu untuk menyelamatkan kandnganu. Jadi berpiir seandainya aku jadi orang kaya. Haduh……….!! Maaf ya mbak!!! Aku nggak bisa bantu!

Setelah menerima kembali uang ku dan tentu saja menolak potongan karena aku sama sekali tidak mendapaa penanganan awal atau minum air mineral gratis yang disediakan aku langsun meninggalkan rumah sakit itu. Upssss…..ada yang terlupa. Aku sempat sobek-sobek kuitansi dan melemparkanya didepan ruang administrasi. Puass banget…walaupun diiringi dengan tatapan aneh orang-orang sekitar. Bodoh banget……..

Aku benci dengan birokrasi termasuk birokrasi dalam rumah sakit yang aku alami. Aku saja yang sudah membayar uang muka belum ditangani!!!! Jadi terbayang ibu muda yang ada disana. Semoga dia mendapatkan kebaikan!!! Dan aku akhirnya memutuskan untuk pindah rumah sakit untuk memeriksakan fetusku walaupun vonisnya sama dia tidak bisa dipertahankan. Paling tidak aku tidak melalui birokrasi yang memuakkan!!
Percaya kan? Orang berduit saja tidak boleh sakit!!! Aaaarrrrrggghhhh…………….
Sssstttt……nama dokter dan rumah sakitnya sengaja tidak aku sebutkan. Bisa-bisa aku mengalami kasus kayak Mbak Prita!!! Upsssss......


3 komentar:

  1. RS di Indonesia memang begitu, Ra. maunya duit aja. hehehe

    BalasHapus
  2. duit duit dan duit...

    sudah beku hati mereka...

    BalasHapus
  3. hi very interesting article thank you

    BalasHapus